Yogyakarta, Koran Jogja – Ikatan Keluarga Besar Pelajar Mahasiswa Pegunungan Tolikara (IKB-PMPT) Korwil Yogyakarta-Solo menggelar aksi budaya di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Sabtu (16/5) malam.
Atraksi budaya tersebut, dalam rangka menyambut agenda besar penguatan organisasi yang akan digelar tahun ini.
Beragam tarian tradisional khas Papua tersebut sukses menyedot perhatian ribuan wisatawan yang memadati kawasan Malioboro dan Titik Nol pada libur panjang Kenaikan Isa Al Masih akhir pekan ini.
Selama empat jam penuh, puluhan mahasiswa asal Kabupaten Tolikara tampil membawakan pertunjukan budaya yang sarat makna kebersamaan dan semangat persaudaraan.
Ketua Korwil IKB-PMPT Yogyakarta-Solo, Amiton Wanimbo, menjelaskan kegiatan tersebut bertujuan untuk penggalangan dana guna mendukung pelaksanaan Natal 2026 serta seminar-seminar organisasi yang akan melibatkan mahasiswa asal Tolikara se-Jawa dan Bali.
“Tahun ini kita akan menyelenggarakan beberapa seminar yang akan diikuti anggota IKB-PMPT se-Jawa-Bali. Yogyakarta terpilih sebagai tuan rumah,” ujarnya di sela pertunjukan.
Amiton menuturkan seminar yang akan digelar nantinya difokuskan pada penguatan kapasitas pelajar dan mahasiswa asal Kabupaten Tolikara melalui berbagai materi pengembangan organisasi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Dalam pertunjukan tersebut, sekitar 85 mahasiswa membawakan Tarian Wisisi, salah satu warisan budaya masyarakat Pegunungan Tengah Papua yang hidup di kalangan Suku Lani.
Tarian ini dikenal sebagai tari pergaulan tradisional yang melambangkan kegembiraan, kebersamaan, dan rasa syukur dalam berbagai acara adat maupun perayaan masyarakat Papua.
“Tarian ini melambangkan kegembiraan, kebersamaan, dan rasa syukur yang sering dipentaskan dalam berbagai acara adat maupun perayaan,” kata Amiton.
Tak hanya itu, mahasiswa Tolikara juga menampilkan Tarian Perang khas Suku Lani yang sarat simbol keberanian, kekuatan, dan semangat mempertahankan wilayah.
Tarian tersebut dibawakan secara massal oleh kaum pria dengan gerakan energik yang merepresentasikan kejantanan dan kesiapan menghadapi musuh.
Menurut Amiton, melalui pertunjukan budaya tersebut pihaknya ingin memperkenalkan lebih luas kekayaan seni dan budaya Papua yang sarat nilai kemanusiaan dan semangat persatuan.
“Melalui gelaran ini, kami ingin lebih luas memperkenalkan seni budaya yang memuat banyak nilai-nilai kemanusiaan dan selalu menjadi daya hidup. Kami sangat berterima kasih karena sudah disambut hangat,” jelasnya.
Salah seorang wisatawan, Agung, asal Pati, mengaku baru pertama kali menyaksikan langsung pertunjukan tarian khas Papua. Ia merasa kagum dengan semangat dan energi yang ditampilkan para mahasiswa asal Tolikara selama pertunjukan berlangsung.
“Baru pertama kali lihat langsung tarian dari Papua. Sangat menarik dan terasa sekali semangatnya ketika dibawakan,” paparnya. (*)
