Gunungkidul – PDAM Tirta Handayani Kabupaten Gunungkidul bersama Kodim 0730/Gunungkidul melakukan peninjauan potensi Sumber Mata Air Ngreneng di Padukuhan Wediutah, Kalurahan Ngeposari, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul, sebagai bagian dari upaya mencari alternatif sumber air untuk mendukung pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat, khususnya di wilayah selatan Gunungkidul.
Peninjauan tersebut dilakukan oleh Direktur Utama PDAM Tirta Handayani Kabupaten Gunungkidul, Sulistyo Aribowo, didampingi Kepala Cabang Bribin, Harjito, bersama Kasdim 0730/Gunungkidul Timotius Subanu beserta jajaran. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut arahan pimpinan satuan TNI AD dalam merespons kondisi krisis air bersih yang masih dirasakan masyarakat Gunungkidul, terutama pada musim kemarau.
Kepala Cabang Bribin PDAM Tirta Handayani, Harjito, menyampaikan bahwa Sumber Mata Air Ngreneng memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai salah satu sumber alternatif dalam memperkuat pelayanan air bersih.
Menurut Harjito, secara hidrologis Sumber Mata Air Ngreneng masih memiliki keterkaitan dengan aliran Sungai Bawah Tanah Goa Bribin. Lokasinya yang relatif berdekatan menjadi salah satu pertimbangan dalam upaya pengembangan dan pemanfaatan sumber air tersebut.
“Potensi Sumber Mata Air Ngreneng ini sangat memungkinkan untuk dimanfaatkan. Untuk mengangkat airnya, pada prinsipnya membutuhkan sistem perpompaan dan jaringan pipa. Jaringan pipa di lokasi juga sudah tersedia sehingga nantinya dapat diinterkoneksikan dengan jaringan yang berada di Sindom,” ujar Harjito.
Jaringan tersebut selanjutnya terhubung dengan sistem pelayanan menuju wilayah Kapanewon Rongkop dan Tepus yang selama ini menjadi salah satu wilayah yang menghadapi persoalan keterbatasan air bersih, terutama ketika memasuki musim kemarau.
Berdasarkan potensi yang ada, Sumber Mata Air Ngreneng diperkirakan mampu menghasilkan debit sekitar 50 liter per detik. Apabila dapat dimanfaatkan secara optimal, debit tersebut berpotensi mendukung pelayanan hingga sekitar 5.000 sambungan rumah (SR) sekaligus meningkatkan cakupan pelayanan air bersih PDAM di wilayah selatan.
Harjito menambahkan, saat ini jumlah pelanggan PDAM Tirta Handayani Cabang Bribin telah mencapai sekitar 12.500 pelanggan. Dari jumlah tersebut, sekitar 3.000 sambungan rumah masih mendapatkan pelayanan dengan sistem penggiliran.
Kondisi tersebut menjadi semakin menantang ketika memasuki musim kemarau. Peningkatan kebutuhan air masyarakat, ditambah dengan pertumbuhan jumlah pelanggan dari waktu ke waktu, membuat kebutuhan terhadap tambahan sumber air dan peningkatan kapasitas pelayanan menjadi semakin penting.
“Jumlah pelanggan terus bertambah, sementara pada musim kemarau kebutuhan air juga meningkat. Saat ini sekitar 3.000 sambungan rumah masih harus dilayani dengan sistem gilir. Karena itu, tambahan sumber air seperti Ngreneng sangat dibutuhkan untuk memperkuat kontinuitas pelayanan,” kata Harjito.
Menurutnya, apabila potensi Sumber Mata Air Ngreneng dapat dimanfaatkan, tambahan debit tersebut dapat digunakan untuk memperluas sekaligus memperkuat cakupan pelayanan air bersih, khususnya di wilayah Kapanewon Tepus, Rongkop, dan Girisubo.
“Dengan adanya tambahan cakupan layanan dari Sumber Mata Air Ngreneng, diharapkan kekurangan kebutuhan pelayanan air bersih di wilayah Tepus, Rongkop, dan Girisubo dapat dipenuhi secara bertahap. Ini juga menjadi salah satu upaya untuk mengurangi sistem penggiliran, terutama ketika kebutuhan air meningkat pada musim kemarau,” jelasnya.
Kasdim 0730/Gunungkidul, Timotius Subanu, menyampaikan dukungannya terhadap upaya pemanfaatan potensi Sumber Mata Air Ngreneng. Menurutnya, hasil peninjauan tersebut akan dilaporkan kepada pimpinan satuan sebagai bahan pertimbangan untuk mendorong upaya bersama dalam mengatasi persoalan krisis air bersih di Gunungkidul.
“Kami akan melaporkan hasil peninjauan ini kepada pimpinan. Harapannya, potensi Sumber Mata Air Ngreneng ini dapat diupayakan bersama agar bisa dimanfaatkan untuk membantu memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat,” kata Timotius.
Ia menambahkan, sinergi antara TNI dan PDAM menjadi bagian penting dalam mendorong solusi terhadap persoalan air bersih, terutama bagi masyarakat di wilayah yang setiap tahun terdampak kekeringan.
Usai meninjau Sumber Mata Air Ngreneng, rombongan kemudian melanjutkan kunjungan ke Goa Bribin. Peninjauan dilakukan untuk melihat secara langsung karakteristik lokasi sekaligus mengetahui kondisi dan kendala operasional yang selama ini dihadapi PDAM Tirta Handayani dalam pemanfaatan Sungai Bawah Tanah Bribin.
Direktur Utama PDAM Tirta Handayani, Sulistyo Aribowo, menjelaskan bahwa Sungai Bawah Tanah Bribin memiliki potensi debit sekitar 900 liter per detik, namun saat ini baru sekitar 108 liter per detik yang dimanfaatkan untuk pelayanan air bersih.
Sulistyo menjelaskan, aliran Sungai Bawah Tanah Bribin masih memiliki keterkaitan dengan aliran menuju Sumber Mata Air Ngreneng yang sebelumnya telah ditinjau. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu potensi yang perlu dikaji lebih lanjut dalam upaya pengembangan sumber air untuk mendukung pelayanan masyarakat.
Di sisi lain, pengembangan dan optimalisasi sistem di Goa Bribin masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait akses menuju lokasi.
“Akses menuju Goa Bribin relatif sempit, ruang gerak terbatas dan memiliki risiko dalam proses pekerjaan. Kondisi tersebut juga berdampak terhadap tingginya biaya operasional ketika dilakukan pekerjaan perbaikan maupun pemeliharaan,” jelas Sulistyo.
Sulistyo menilai Sumber Mata Air Ngreneng memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu alternatif dalam menghadapi persoalan krisis air bersih, khususnya di wilayah Tepus, Rongkop, dan sebagian Semanu.
Selain memiliki potensi debit yang besar, sejumlah infrastruktur pendukung di lokasi juga telah tersedia, di antaranya jaringan pipa dan instalasi listrik PLN. Kondisi tersebut dinilai dapat menjadi faktor pendukung untuk mempercepat pengembangan apabila sumber air tersebut nantinya dinyatakan layak untuk dimanfaatkan berdasarkan kajian teknis.
“Dengan sudah tersedianya jaringan pipa, instalasi listrik PLN, serta melihat potensi debit air yang besar, Ngreneng dapat menjadi salah satu langkah yang relatif cepat untuk mendukung penanganan krisis air bersih,” ujar Sulistyo.
Namun demikian, pemanfaatan sumber tersebut tetap membutuhkan dukungan pembiayaan, terutama untuk pembangunan atau pengadaan sistem perpompaan serta infrastruktur pendukung lainnya.
Sulistyo berharap dukungan dari berbagai pihak dapat mendorong percepatan pemanfaatan Sumber Mata Air Ngreneng sehingga potensinya dapat dioptimalkan untuk mendukung peningkatan pelayanan air bersih kepada masyarakat.
“Harapannya ada dukungan sumber pendanaan dan pembiayaan untuk mengangkat potensi Sumber Mata Air Ngreneng ini agar dapat dimanfaatkan secara optimal, khususnya untuk mendukung kebutuhan pelanggan di Kapanewon Rongkop, Tepus, Girisubo, dan sebagian Semanu,” katanya.
Ia menambahkan, sinergi antara PDAM Tirta Handayani dan Kodim 0730/Gunungkidul diharapkan tidak berhenti pada peninjauan, tetapi dapat berlanjut menjadi langkah konkret dalam mendorong pemanfaatan sumber air tersebut.
Dengan potensi debit yang besar serta dukungan infrastruktur yang telah tersedia, Sumber Mata Air Ngreneng diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif strategis dalam meningkatkan cakupan pelayanan air bersih sekaligus membantu masyarakat Gunungkidul menghadapi persoalan krisis air bersih yang berulang setiap musim kemarau.
Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen PDAM Tirta Handayani untuk terus mencari dan mengembangkan potensi sumber air baru, memperkuat infrastruktur pelayanan, serta membangun sinergi dengan berbagai pihak demi mewujudkan pelayanan air bersih yang lebih luas, berkelanjutan, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat Gunungkidul. (*)
