Yogyakarta, Koran Jogja – Pemkot Yogyakarta bersama Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) berkolaborasi dengan menjalankan program Satu Kampung Satu Arsitek.
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengatakan kampung merupakan hunian, sekaligus tempat tumbuhnya nilai sosial, budaya, kreativitas, dan kemandirian warga.
“Ketika kampungnya baik, kotanya juga akan berkembang semakin baik,” katanya.
Ia mengatakan, Yogyakarta punya identitas budaya yang kuat, sehingga penataan lingkungan perlu mempertahankan karakter lokal.
Program Satu Kampung Satu Arsitek itu diharapkan menghadirkan permukiman yang bersih, sehat, indah, dan bernilai estetika.
Hasto mencontohkan penataan sungai, yang dimulai dengan pembersihan bantaran sungai hingga pemasangan 27 jaring sampah.
Pemasangan jaring sampah tersebut, bertujuan menahan sampah kiriman dari hulu sebelum masuk ke Kota Yogyakarta.
Tahap setelah masalah kebersihan teratasi adalah menghadirkan sentuhan desain yang bisa menghidupkan ruang publik di kawasan sungai.
“Setelah sungai bersih, diperlukan sentuhan dari para arsitek untuk menjadikan ruang publik menarik tanpa meninggalkan fungsi ekologisnya,” katanya.
Hasto menyebut keberhasilan pembangunan kota, tidak hanya ditentupan pada pembangunan kawasan utama, seperti Malioboro.
Bnamun juga menjaga kualitas lingkungan di setiap kampung serta bantaran sungai. Pemkot Yogyakarta pun bersinergi dengan sejumlah elemen untuk pembangunan berkelanjutan.
