Tak Berizin, Café Di Bukti Rawan Bencana Terancam Ditutup

by

Bantul, Koran Jogja – Berada di kawasan rawan bencana, sebuah café yang baru sebulan beroperasi di kawasan Puncak Bibis, Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Bantul terancam ditutup. Selain aspek keamanan dan keselamatan yang tidak diperhatikan, café ini ternyata beroperasi tanpa izin.

Temuan ini didapatkan saat Komisi A DPRD Bantul melakukan sidak bersama dengan pemerintah desa, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Satpol PP, Selasa (11/1/2022) ke Bee Byonti Hidden Café.

“Kami ke sini untuk menyakinkan dan mengetahui sejauh mana perizinan, tingkat keamanan dan sisi kebencanaan. Sebab lokasi yang diplih di pinggir gunung yang rawan bencana longsor,” kata Ketua Komisi A DPRD Bantul, Muhammad Agussalim.

Tidak hanya perizinan, kondisi keamanan seperti pagar batas pengunjung dinilai rawan dan berbahaya bagi anak-anak.

Agus mengatakan Kepala Desa Bangunjiwo mengatakan tidak adanya perizinan ini menjadikan Pemdes kecolongan sebab lokasi berdirinya café ini termasuk kawasan rawan bencana.

“Kami inginkan manajemen menindaklanjuti perizinan secepatnya supaya diselesaikan secepat mungkin agar keberadaanya sesuai prosedur dalam tiga bulan ke depan. Jika tidak kami rekomendasikan ditutup,” jelasnya.

Kepala Desa Bangunjiwo Pardja memastikan tidak hanya persoalan perizinan, mengenai sosialisasi keberadaan tempat ini juga tidak pernah didapatkan pemerintah desa.

“Kami belum pernah ditembusi soal perizinan, tapi tempat ini sudah dibuka untuk umum. Artinya izinnya nol. Bukan bermaksud apa-apa, Ia menegaskan pengurusan izin ini diperlukan untuk mengetahui persoalan keamanan dan kenyamanan pengunjung jika terjadi sesuatu,” tegasnya.

Sesuai prosedur, sebelum pembangunan manajemen seharusnya melakukan sosialisasi ke warga sekitar, Dukuh, Kepala Desa, Camat, Kapolsek dan Danramil. Tapi ini sama sekali tidak ada sehingga pihaknya tidak mengetahui keberadaan tempat itu.

Sebagai Desa Tangguh Bencana, Pardja mengatakan kawasan Puncak Bibis oleh Pemdes Bangunjiwo dinyatakan rawan bencana terutama tanah longsor. Sehingga semua proses pembangunan diminta memperhatikan prosedur.

Bagian legal café Riyanto Dimas mengatakan soal perizinan sudah diurus ke Kementerian, sedangkan ke daerah belum dilakukan karena masa pandemi.

“Kita urus ke perizinan, dan diminta tembusi desa. Desa saya tembusi terkait dengan hal-hal yang berkaitan kelengkapan di sini. Saya sudah bertemu Bupati dan pak Joko (Wabup). Mereka memberikan apresiasi dan berharap Biibis menjadi pusatnya rekreasi selain Dlingo,” katanya.

Riyanto berjanji memenuhi dan melengkapi semua temuan ini termasuk tingkat keamanan. Namun menurutnya penataan ulang sisi keamanan pengunjung bakal terkendala susahnya menemukan tukang.

Baru buka sebulan yang lalu pada 12 Desember 2021. Menempati lahan seluas satu hektar, manajemen menyewa tanah milik warga dengan jangka waktu 20 tahun. (Set)