UGM Dorong Pengembang Gelatin dan Kolagen Lokal

by

Sleman, Koran-Jogja – Guru Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM), Yuny Erwanto menyatakan kebutuhan akan gelatin dan kolagen seharusnya bisa dimaksimalkan dari peternakan lokal. Kebutuhan gelatin dan kolagen terus meningkat.

Hal ini disampaikan Yuny dalam pidato pengukuhan dirinya sebagai Guru Besar bidang teknologi hasil ternak Fakultas Peternakan UGM di Balai Senat, Selasa (29/6).

“Data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2019 lalu kebutuhan Indonesia akan gelatin dari impor mencapai 4.808 ton per tahun. Ini terus meningkat setiap tahunnya,” tutur Yuni.

Padahal, sesuai data BPS pada 2021 ini pemotongan sapi di Indonesia pada 2019 mencapai 1,1 juta ekor. Dengan jumlah tersebut diperkirakan total kulit yang dihasilkan mencapai 33.067 ton dan memiliki potensi produksi gelatin hingga 3.300 ton. Sementara tulang yang dihasilkan 57.317 bisa memproduksi gelatin hingga 4.580 ton.

“Potensi tersebut untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri. Gelatin dan kolagen ini dipergunakan dalam berbagai hal untuk pemenuhan kebutuhan pangan, farmasi dan kesehatan,” jelasnya.

Pengembangan kolagen dan gelatin domestik harus diupayakan terutama yang bersumber pada hewan kambing dan sapi lokal dengan kualitas yang lebih baik bahkan memiliki potensi untuk bahan pangan farmasi seperti agen antioksidan dan antihipertensi.

Dalam laporannya, Yuni mengatakan gelatin adalah polipeptida yang diperoleh melalui hidrolisis kolagen yang merupakan kandungan terbesar pada kulit, tulang dan jaringan penghubung hewan.

Gelatin umumnya dibuat dari limbah yang dihasilkan dari pemotongan hewan dan yang paling umum berasa dari kulit dan tulang. Penggunakan kulit sebagai sumber untuk menghasilkan kolagen dan gelatin pada saat ini tidak menjadi tujuan utama dan kulit dengan kualitas yang baik biasanya digunakan sebagai bahan penyamakan kulit yang harga jualnya bernilai ekonomis tinggi.

Di tingkat dunia, di 2020 produksi gelatin dunia mencapai 516,8 metrik ton dan diperkirakan akan mencapai 696,1 metrik ton pada tahun 2027. Meningkat 4,3 persen setiap tahun dengan prosentase terbesar dari kulit babi 42,9 %, didudul kulit sapi 28,7% dan tulang hewan sebesar 24,9 persen dan sisanya dari bahan lainnya.

Secara garis besar, tahapan produksi gelatin dapat dikelompokkan menjadi tiga yakni tahap persiapan bahan baku, tahap konversi kolagen menjadi gelatin dan tahap pemurnian serta pengeringan gelatin.

“Proses pembuatan dan jenis bahan baku yang berbeda pada pembuatan gelatin akan mempengaruhi mutu dan komposisi gelatin yang dihasilkan misalnya kekuatan gel, viskositas, dan komposisi,” paparnya.(set)