BPBD DIY Catat 2021, Bencana Tanah Longsor Terbanyak

by

Yogyakarta, Koran Jogja – Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Istimewa Yogyakarta Biwara Yuswantana berdasarkan pendataan pihaknya bencana tanah longsor mendominasi bencana alam.

Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) DIY mencatat sebanyak 388 titik terjadi tanah longsor.

Dibanding jumlah kejadian di tahun-tahun sebelumnya, dimana 2018 tercatat 219 kejadian tanah longsor, 2019 terjadi 506 kejadian, dan 2020 tercatat 475 kejadian. Maka jumlah kejadian tanah longsor yang terjadi tahun ini menurun.

“Kami meminta masyarakat, khususnya yang tinggal di kawasan rawan, meningkatkan kewaspadaan terkait potensi bencana longsor maupun jenis bencana hidrometeorologi lainnya. Sebab musim hujan masih diprediksi sampai Januari-Februari,” kata Biwara, dalam jumpa pers, Kamis (30/12).

Hingga kemarin, Pusdalops PB DIY mencatat ada sebanyak 1.015 laporan dengan kategori 824 kejadian, 69 bencana dan 122 kejadian lain-lain. Sehingga akumulasi kejadian dan kebencanaan sebanyak 893.

Bencana gempa bumi sebanyak 217 kali, angin kencang 148 kali, 155 kebakaran permukiman dan bangunan, 18 kali kebakaran lahan, 11 kali banjir, 3 kali banjir lahar hujan, serta 2 kali letusan gunung api.

“Dari seluruh kejadian kebencanaan tersebut, sebanyak 69 dikategorikan sebagai bencana meliputi 18 kali angin kencang, 2 kali letusan gunung api, 2 kali kebakaran, 46 titik tanah longsor, dan 1 kali pandemi,” terang Biwara.

Kulonprogo menjadi wilayah paling terdampak sepanjang tahun ini dengan 452 kali kejadian. Lalu ada Bantul sebanyak 438 kali kejadian, Gunungkidul dengan 325 kejadian, Sleman sebanyak 299 kali kejadian, dan wilayah Kota Yogyakarta terdampak 283 kali kejadian.

“Jika dilihat data per wilayah, angka menjadi lebih tinggi dikarenakan banyaknya kejadian lintas wilayah seperti gempa bumi, angin kencang dan banjir,” terangnya.

Dari seluruh kejadian kebencanaan yang terjadi, sedikitnya ada 1.950 jiwa terdampak serta korban jiwa meninggal dunia sebanyak 9 jiwa, 33 jiwa luka dan 118 harus mengungsi. Sedangkan kerugian material mencapai nilai Rp17 miliar.

Banyaknya kejadian ini mengakibatkan 688 rumah rusak, 187 bangunan tergenang, 995 pohon tumbang, 113 tempat usaha rusak, 22 fasilitas pendidikan rusak, 16 rumah ibadah rusak, 111 titik talud rusak, 52 kendaraan rusak, 6 hektare lahan tergenang dan 8 hektare lahan rusak terbakar. (Set)