Desa Guwosari Berdaya Mandiri Kelola Sampah

by

Bantul, Koran Jogja – Mendirikan tempat pembuangan sampah (TPS) 3R ‘Go Sari’ pada 2019, perlahan-lahan Desa Guwosari, Kecamatan Pajangan,

Bantul mampu melepaskan diri atas ketergantungan pembuangan sampah pada TPST Piyungan. Kemandirian mengolah sampah mendatangkan pendapatan Rp7 juta per bulan.

Menemani kunjungan wartawan pada Jumat (13/5), Kepala Desa Guwosari, Masduki bercerita tujuan utama berdirinya TPS 3R ‘Go Sari’ sebagai upaya mewujudkan kemandirian dalam penanganan sampah rumah tangga warganya.

“Keprihatinan ini muncul karena penanganan sampah di lingkungan kami tidak tertangani dengan baik. Terlebih lagi dalam beberapa tahun lagi, UIN Sunan Kalijaga akan berdiri dan beroperasi. Ini mengantisipasi permasalahan sampah yang timbul nantinya,” katanya.

Di awal operasi, Masduki mengatakan desa masih memberikan subsidi biaya pengelolaan sampah yang diambil dari warga. Namun lambat laun dengan kerja keras dan terus menerus belajar, tahun ini subsidi tidak lagi diberikan.

Menurutnya, keberadaan TPS 3R ‘Go Sari’ kedepan nantinya akan menjadi solusi bagi para pengelola lapak maupun bank sampah di Guwosari sebagai tempat pembuangan sampah.

“Kita mengajak mereka berkolaborasi. Silahkan mereka memilah sampah yang bisa dijual ketika baru mengambil dan pelanggan, sisanya bisa diserahkan ke kami,” jelasnya.

Saat ini Masduki memaparkan pihaknya tengah memetakan potensi sampah di setiap dusun sampai RT. Dengan data ini maka pemanfaatan sampah lebih optimal.

“Mengolah sampah itu angel-angel gampang, butuh semangat kebersamaan mulai dari atas sampai bawah. Jangan sekedar sampah menjadi ‘gimmick’,” katanya.

Plt Direktur BUMDes Muhammad Iqbal menceritakan sejak beroperasi Desember 2019 dan di 2021 pihaknya sudah tidak membuang sampah ke TPST Piyungan.

“Sampah dari 1.400-an pelanggan yang rata-rata mencapai 2 ton semuanya kita olah, pisah dan manfaatkan langsung di sini,” kata Iqbal.

Sampah kering laku jual disendirikan. Sampah basah dijadikan pupuk kompos dan pakan peternakan maggot. Sisa residu yang tidak bisa diolah atau digunakan kembali seperti masker dan pamper dibakar dalam mesin insenerator ramah lingkungan.

“Secara ekonomi, bulan kemarin laba bersih kita sebesar Rp4 juta dan bulan ini diestimasikan masuk Rp7 juta. Jika semua sampah warga se-Guwosari kita olah, ada peluang pemasukkan hingga Rp50 juta per bulan. Saat ini baru 30 persen sampah yang kita kelola,” lanjut Iqbal. (Set)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *