Di Tangan Samsul, Truk Mainan Mampu Berharga Ratusan Ribu

by

Bantul, Koran Jogja – Mencoba merubah keberuntungan dengan berdagang, Samsul Arifin warga Dusun Kaliasem, Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Bantul malah menjadi perajin miniatur truk oleng dengan omzet menembus Rp10 juta per bulan. Mengandalkan pasar online, pesanan mampu mencapai empat unit miniatur truk oleng seminggu.

Ditemui di rumahnya yang juga menjadi tempat produksi bernama ‘Alerry Shop’, di pada Jumat (26/2) pagi, Samsul Arifin bercerita panjang tentang awal mula usaha yang baru dirintis pada akhir 2019 lalu itu.

“Awalnya saya hanya berjualan stiker yang biasa ditempel di miniatur truk di sekolah-sekolah, sebagai pekerjaan sampingan. Saat itu miniatur truk yang digerakkan dengan menarik sudah muncul dan digandrungi anak-anak sekolah,” ucap Samsul.

Melihat semakin besarnya minat anak-anak sekolah terhadap miniatur truk, terutama yang dijalankan bisa berjalan oleng karena ada muatannya. Samsul yang sebelumnya bekerja di sebuah perusahaan di Jalan Magelang memutuskan belajar membuat miniatur truk oleng.

Belajar otodidak dari YouTube, Samsul lantas mampu menghasilkan karya miniatur truk oleng yang berbeda dari kebanyakan komoditas yang mayoritas berasal dari Jawa Tengah. Dengan ukuran yang hampir sama, yaitu skala 1:20 cm, Samsul mengaku kelebihannya ada pada bagian bawah truk hasil ciptaannya.

“Selain mampu oleng ketika lewat jalan yang tidak rata. Tampilan bagian bawah saya buat senyata mungkin dengan aslinya. Ini yang menjadikan pembeda dengan produk lainnya,” katanya.

Untuk bisa menghasilkan satu miniatur truk oleng, Samsul yang sehari-sehari dibantu empat rekannya dalam produksi, harus mengeluarkan nominal sebesar Rp150 ribu. Lantas hasil karyanya itu kemudian diberi nilai jual dari Rp250 ribu – Rp280 ribu per unit.

Mengandalkan bahan baku triplek ukuran 4 mm, sebagai material utama bak dan bodi depan truk. Samsul lantas menambah berbagai aksesoris dari kawat-kawat stainless steel, berbagai plastic dari bahan bekas, serta lampu-lampu yang bisa menyala malam hari.

“Pengalaman memproduksi dan menjual stiker buat aksesori truk menjadi modal berharga. Karena saya bisa mengkreasikan wujud stiker yang menarik dan berbeda dengan yang lain sehingga menambah nilai jual,” jelasnya.

Karena hantaman pandemi yang sudah berlangsung hampir setahun ini, Samsul mengaku saat ini lebih banyak mengandalkan pemasaran via media sosial. Hasilnya menurutnya meski tidak sebagus dijual langsung ke sekolah-sekolah, namun sudah menjanjikan.

Dalam seminggu, Samsul mengatakan bisa memproduksi lebih dari 4 unit truk, satu truk membutuhkan waktu pengerjaan hingga enam jam. Yang lantas dipasarkan dengan dengan tingkat penjualan mencapai 30-an unit dalam setiap bulannya.(set)