Kisah Sutrajaya Bangun Bisnis Jamu Ayam Jago ‘Mbah Joyo’ dari Nol, Sempat Jualan Cacing Sungai

by

Bantul, Koran Jogja – Jamu Ayam Jago ‘Mbah Joyo’ sudah dikenal dan menjadi langganan bagi para pecinta ayam di penjuru tanah air. Bahkan jamu tersebut juga banyak ditemukan di luar negeri, seperti Malaysia, Thailand hingga Myanmar.

Sutrajaya, sebagai pemilik dan pembuat Jamu Ayam Jago ‘Mbah Joyo’ mengawali bisnisnya yang telah mempunyai lebih dari 70 tenaga kerja memulainya dari nol. Bahkan sebelum menggeluti jamu ini dirinya sempat beberapa kali berganti jualan.

Pria yang akrab disapa Mas Joyo atau Mbah Joyo ini mengatakan, sempat jualan koran, Teka-Teki Silang (TTS), sampai cacing. “Dulu saya punya usaha jual cacing sungai. Saya bungkus dititipkan ke toko-toko pakan ternak itu,” katanya di Tamanan, Banguntapan, Bantul, Jumat (4/12).

Joyo yang juga memelihara ayam kemudian mencoba untuk membuat jamu untuk diberikan kepada ayamnya sendiri. “Sekitar 2010 saya produksi sendiri jamu. Awalnya untuk ayam saya sendiri. Kemudian saya tawarkan ke teman-teman. Saya juga titipkan ke penjual pakan,” katanya.

Penjualan jamu untuk ayam itu pun cukup mendapatkan respon yang baik dari para pelanggan dekatnya. “Pelanggan cacing yang saya jual itu ternyata ada yang pelihara ayam. Mereka jadinya juga jadi pelanggan jamu untuk ayam buatan saya,” katanya.

Joyo berkata, seiring waktu jamu tersebut semakin laku. Lantas Joyo berupaya untuk memasarkannya ke daerah yang lebih luas. “Saya coba mobilisasi ke luar Yogyakarta, seperti ke Solo. Dulu saya pakai motor dan kronjot (keranjang motor),” katanya.

Jamu Mbah Joyo akhirnya semakin banyak dikenal di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan sekitarnya. Modalnya untuk membeli bahan baku, mulai meningkat. Dari Rp30 ribu, menjadi Rp50 ribu, lalu Rp500 ribu dan sampai saat ini bisa mencapai Rp10 juta untuk setiap produksi. “Itu hanya untuk bahan baku saja. Bahkan ada sebagian bahan yang import,” ucapnya.

Joyo mengatakan,  memutuskan untuk membeli bahan baku import yang terkandung dalam Jamu Mbah Joyo ini awalnya ada masukan dari salah seorang pelanggannya. ”Ada satu konsumen mengatakan, Jamu Mbah Joyo bagus tapi sayang hanya untuk menyehatkan saja. Bukan untuk menambah tenaga,” katanya.

Dari masukan itu, Joyo kemudian mencari cara supaya Jamu Mbah Joyo ini bisa menyehatkan sekaligus memberikan tenaga untuk ayam. Namun tetap semua bahan dari herbal. “Saya campur dengan ramuan-ramuan. Akhirnya banyak bahan yang saya beli. Semuanya herbal, tidak ada satu tetespun dari bahan kimia,” katanya.

Kualitas Jamu Mbah Joyo yang semakin meningkat ini diikuti pula dengan pemasaran yang semakin meluas. Joyo mengatakan, jamu buatannya tersebut sudah dipasarkan di penjuru tanah air.

“Produk saya akhirnya dipasarkan dari Sabang sampai Merauke. Bahkan waktu saya ke Malaysia, banyak orang Malaysia yang punya jamu itu. Thailand, Myanmar juga ada. Jadi ada orang yang menjual ke sana (luar negeri), bukan saya,” katanya.

Joyo berkata, untuk setiap produksi ia biasanya membuat sekitar 6 dos yang berisi kisaran 3.600 bungkus jamu. Dalam membuatnya, dirinya saat ini telah dibantu oleh lebih dari 70 tenaga kerja. “Karyawan rata-rata merupakan warga yang tinggal di sekitar pabrik,” katanya.

Karyawannya terbagi dalam dua divisi, yakni divisi pencetakan dan pengemasan. Untuk pencetakan merupakan tenaga kerja usia lanjut atau orang tua yang tidak punya pekerjaan di rumah. Sedangkan pengemasan, anak muda yang putus sekolah. Seluruh tenaga kerjanya ini pun mendapatkan upah layak, bahkan di atas Upah Minimum Regional (UMR).

“Terkadang kami kewalahan karena permintaan banyak. Sehingga mau tidak mau tambah tenaga kerja atau lembur. Sebenarnya memang bisa menggunakan mesin untuk menjangkau hasil produksi, tapi saya khawatir ada pengurangan tenaga kerja. Karena saya yakin orang yang kerja di tempat saya itu membutuhkan, apalagi saat ini pandemi,” katanya.

Joyo juga mengatakan, ia pernah merasakan betapa pahitnya hidup susah dan harus mengawali bisnis dari nol. Sehingga saat dirinya diberi rejeki lebih seperti saat ini, ia merasa terketuk untuk bisa bermanfaat kepada orang lain.

“Setidaknya bisa membantu orang lain yang juga merasakan nasib seperti yang saya rasakan dulu. Saya terketuk membantu mereka untuk setidaknya meringankan beban,” katanya.

Tak hanya memberikan pekerjaan kepada puluhan orang saja. Joyo juga selama ini rutin melakukan kegiatan amal seperti santunan kepada minimal seratus anak yatim di Bantul setiap bulannya.

Arti Nama Jamu Ayam Jago ‘Mbah Joyo’

Joyo mengaku sengaja memberikan nama jamu untuk ayam miliknya ini dengan sebutan Jamu ‘Mbah Joyo’. “Joyo itu diambil dari nama saya, Sutrajaya. Saya asli Cirebon, tapi karena tinggal di Jawa, biasa dipanggil Mas Joyo. Jadi nama saya, saya ganti Mbah Joyo,” katanya.

Sedangkan untuk Mbah, Joyo mengatakan memiliki harapan dari bisnis jamu ayamnya ini supaya bisa tetap bertahan hingga ke anak-cucunya. “Kita kan pasti tua, Mbah (bahasa Jawa, artinya orang tua). Saya berharap agar jamu saya langgeng sampai turun ke anak cucu saya. Jadi usianya makin lama makin tua,” katanya.(rid)