Sabtu, 13 Juni 2026
Koran Jogja

Mahasiswa Papua Inginkan Pembangunan yang Partisipatif Sekaligus Menghormati Hak Adat

Mahasiswa Papua Inginkan Pembangunan yang Partisipatif Sekaligus Menghormati Hak Adat. (Ist)
Mahasiswa Papua Inginkan Pembangunan yang Partisipatif Sekaligus Menghormati Hak Adat. (Ist)

Bantul, Koran Jogja – Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Raja Ampat (IPMARAM) menegaskan bahwa pembangunan di Papua perlu terus dilaksanakan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, proses pembangunan harus dilakukan secara inklusif, partisipatif, serta menghormati hak-hak masyarakat adat.

Pandangan tersebut mengemuka dalam kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi publik bertajuk “Film Pesta Babi: Antara Realita dan Agenda Pembangunan” yang dirangkaikan dengan pentas seni budaya Papua di Goebog Resto, Banguntapan, Bantul, Rabu (10/6) malam.

Sebanyak 80 peserta yang terdiri dari mahasiswa, akademisi, dan masyarakat umum menghadiri kegiatan yang digagas SHG Advokat tersebut.

Pendiri SHG Advokat, Setyo Hadi Gunawan, menjelaskan bahwa acara diselenggarakan dalam nuansa akademis, kebudayaan, dan diskusi publik yang menitikberatkan pada pertukaran gagasan mengenai pembangunan, literasi informasi, serta masa depan Papua.

“Setelah pemutaran film Pesta Babi selama kurang lebih satu jam, peserta kami ajak berdiskusi dengan narasumber dari berbagai latar belakang. Sebelum acara juga ditampilkan Tarian Pangkur Sagu yang dibawakan anggota IPMARAM sebagai bentuk pelestarian budaya Papua,” kata Setyo, Sabtu (13/6).

Mahasiswa Profesi Psikologi Universitas Gadjah Mada sekaligus Miss Papua Barat 2013, Charlien Tania, yang bertindak sebagai moderator, mengawali diskusi dengan menekankan pentingnya literasi media di era digital. Menurutnya, masyarakat perlu memiliki kemampuan membedakan fakta, dugaan, dan opini dalam menerima informasi.

“Masyarakat perlu memiliki sikap kritis dengan melakukan verifikasi sumber, membandingkan informasi dari berbagai referensi, serta memanfaatkan platform pengecekan fakta agar tidak mudah terpengaruh hoaks maupun informasi yang menyesatkan,” ujarnya.

Tokoh agama asal Papua, Pdt. Beni Dimara, mengajak peserta melihat setiap informasi dari berbagai sudut pandang dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi.

Ia menilai mahasiswa Papua perlu terus mengembangkan kemampuan berpikir kritis melalui ruang-ruang diskusi yang konstruktif agar mampu memahami berbagai persoalan secara lebih komprehensif.

“Mahasiswa Papua harus terus belajar, memperluas wawasan, dan mengasah ketajaman berpikir. Diskusi seperti ini menjadi sarana untuk memahami berbagai perspektif yang berkembang di masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Dosen Film dan Televisi ISI Yogyakarta, Pius Rino Pungkiawan, menyoroti film dokumenter sebagai medium yang tidak hanya merekam fakta, tetapi juga menyampaikan sudut pandang dan pengalaman pembuat film.

Menurutnya, dokumenter memiliki pendekatan yang berbeda dengan karya jurnalistik karena mengandung unsur interpretasi dan konstruksi naratif yang bertujuan membangun pemahaman tertentu bagi penontonnya.

“Film dokumenter bukan sekadar menyampaikan fakta, tetapi juga menghadirkan perspektif subjektif pembuatnya melalui cara bercerita yang dirancang secara sinematik,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Dekan Fakultas Ilmu Pertanian Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Yunianta, menegaskan bahwa sektor pertanian memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan, kesejahteraan masyarakat, dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Menurutnya, program pembangunan pertanian, termasuk pengembangan kawasan pangan berskala besar, perlu didukung peningkatan kualitas sumber daya manusia, kesejahteraan petani, serta komunikasi yang baik dengan masyarakat setempat.

“Setiap program pembangunan harus memperhatikan aspek sosial, budaya, dan lingkungan agar manfaat yang dihasilkan dapat dirasakan secara adil dan berkelanjutan oleh masyarakat,” paparnya.

Dari hasil diskusi, para peserta menyimpulkan bahwa pembangunan di Papua harus terus dilanjutkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, pelaksanaannya perlu dilakukan secara inklusif, partisipatif, dan menghormati hak-hak masyarakat adat.

Selain itu, pembangunan juga harus menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi, pelestarian budaya, dan perlindungan lingkungan guna mencegah munculnya konflik sosial.

Peserta juga menekankan pentingnya generasi muda Papua untuk terus menempuh pendidikan, memperluas jaringan pergaulan dengan berbagai kelompok masyarakat, serta meningkatkan kapasitas diri agar dapat berkontribusi dalam pembangunan daerah di masa depan. (*)

Leave a Reply