Koran Jogja – Seseorang mungkin olahraga 45 menit dan menjaga pola makan. Namun, tetap menghabiskan 10 jam berikutnya untuk duduk di meja kerja, di dalam mobil, atau di sofa.
Hal itu tidak membuat olahraga menjadi sia-sia. Aktivitas olahraga tetap membantu meningkatkan kebugaran, kekuatan, dan kesehatan jantung.
Permasalahannya adalah olahraga dan perilaku kurang gerak, bukan dua hal yang saling bertolak belakang secara mutlak.
Orang bisa aktif secara fisik pada sebagian waktu dalam sehari, namun tetap menghabiskan sebagian besar waktu dengan tidak banyak gerak.
Dr. Ashish Gautam, Direktur Utama Bedah Robotik dan Laparoskopi di Max Super Speciality Hospital, Patparganj, New Delhi, menjelaskan mengapa perbedaan ini penting.
- Duduk selama sepuluh jam mengubah ritme harian tubuh
Gautam menjelaskan saat seseorang duduk beberapa jam, otot besar pada kaki cenderung tidak banyak gerak.
“Penggunaan energi menurun dibandingkan saat berdiri atau berjalan. Aliran darah di kaki juga berubah selama duduk dalam waktu lama,” ujar Dr. Gautam.
Sementara, tubuh memakai energi bahkan di luar sesi olahraga. Berjalan menuju rapat, menaiki tangga, membawa belanjaan, memasak, atau sekadar bangkit dari kursi membuat otot tetap bekerja.
Pedoman WHO mengenai aktivitas fisik dan perilaku sedenter secara khusus mengakui waktu sedenter sebagai masalah kesehatan dan menyarankan untuk membatasinya, di samping melakukan aktivitas fisik secara rutin.
- Otot berperan penting dalam mengolah gula darah
Otot merupakan pengguna utama glukosa. Saat berkontraksi selama berjalan atau melakukan aktivitas lain, otot dapat menyerap glukosa dari aliran darah dan menggunakannya sebagai sumber energi.
Duduk berjam-jam menghilangkan banyak kesempatan tersebut.
Hal ini menjadi sangat relevan setelah makan. Penelitian menemukan menyelingi waktu duduk yang lama dengan berjalan kaki sejenak dapat mengurangi respons glukosa dan insulin setelah makan.
Sebuah uji coba acak menemukan adanya manfaat ketika jeda berjalan kaki selama dua menit dilakukan setiap 20 menit sekali.
Hal itu tidak berarti setiap orang yang duduk selama 10 jam pasti akan menderita diabetes.
Artinya, kurangnya aktivitas dalam waktu lama merupakan faktor lain yang perlu diperhatikan, terutama bagi orang-orang yang sudah memiliki risiko gangguan metabolisme yang lebih tinggi.
- Olahraga tidak menghapus dampak hari yang kurang aktif
“Olahraga selama 45 menit memberikan lonjakan aktivitas yang penting. Namun, sepuluh jam yang dihabiskan dengan duduk menciptakan pola aktivitas yang sangat berbeda sepanjang sisa hari itu,” ujar Dr. Gautam.
Di sinilah konsep “berolahraga namun tetap kurang aktif” menjadi penting.
Tujuannya bukanlah mengganti olahraga dengan sekadar berjalan-jalan di dalam rumah. Keduanya memiliki peran masing-masing.
Gerakan-gerakan kecil dapat mengisi celah aktivitas. Anda bisa berjalan saat menerima panggilan telepon.
Kemudian memakai tangga untuk naik atau turun satu-dua lantai serta berjalan menghampiri rekan kerja alih-alih mengirim pesan.
Lakukan jalan santai setelah makan siang dan berdiri lah sejenak di sela-sela rapat.
Sejumlah aktivitas sederhana itu terkadang diabaikan. Sebab tidak terlihat seperti olahraga. Namun, dari sudut pandang metabolisme, gerakan rutin menjaga otot tetap aktif dan meningkatkan penggunaan energi sepanjang hari. (*)
